Menguak Kekayaan dan Kebanggaan Bangsa, Indonesian South Sea Pearl

Penggemar perhiasan pasti tahu berbagai bahan yang membentuk perhiasan mereka. Bahan-bahan tersebut memiliki pesonanya sendiri dan kesulitan dalam mendapatkannya. Memiliki perhiasan seperti ini membutuhkan usaha yang tidak mudah, uang yang tidak sedikit, dan memberikan kebanggaan tersendiri bagi penggunanya. Bahan-bahan ini bermacam-macam dan salah satu yang diperhitungkan adalah mutiara. Begitu lamanya dan sulitnya untuk mendapatkan mutiara terbaik demi perhiasan yang elegan dan elit sehingga harga perhiasan dari mutiara boleh dibilang selangit.

ilus1

Mutiara emas dan perak, bagian dari kekayaan Indonesian South Sea Pearl yang paling diincar oleh kolektor dunia. Gambar diunduh dari www.missjoaquim.com.

 

Jenis-jenis mutiara

Mutiara sendiri terdiri dari mutiara asli yang langsung diproduksi di alam dan mutiara imitasi. Terdapat dua jenis mutiara asli, yaitu mutiara air laut dan mutiara air tawar. Mutiara air laut membutuhkan waktu produksi yang lebih lama (sekitar dua sampai empat tahun), menghasilkan bentuk yang lebih bervariasi, dan memancarkan kilauan yang lebih jelas, sehingga tingkat kepuasan penggunanya akan lebih tinggi dan menyebabkan produk ini lebih berharga jika dibandingkan dengan mutiara air tawar.

 

Indonesia sebagai penghasil mutiara Laut Selatan

Indonesia adalah salah satu penghasil mutiara paling bergengsi di dunia, di mana produksinya menempati peringkat teratas sejak tahun 2005. Kesempurnaan produk mutiara yang dihasilkan akan sangat terlihat ketika diambil secara langsung dari cangkang tiram mutiara Laut Selatan. Tiram yang paling langka dan terbesar di dunia bernama ilmiah Pinctada maxima, ukurannya cukup besar dengan diameter mencapai 12 inci dan memiliki dua variasi warna bibir yaitu putih atau emas. Jumlahnya sangat sedikit, banyak ditemukan di laut tropis yang hangat di mana Laut Selatan memiliki karakteristik yang cocok untuk kehidupan tiram tersebut. Penemuan habitat paling produktif ini dimulai pada awal abad ke-19 dan menggairahkan pasar Eropa.

Tiram Pinctada maxima sebagai penghasil kekayaan Indonesian South Sea Pearl. Gambar diunduh dari Wikipedia Bahasa Inggris.

 

Berharganya mutiara Laut Selatan Indonesia

Kembali lagi soal harga mutiara air laut, semuanya ditentukan oleh kualitas, kilau, bentuk, permukaan, nacre, ukuran, dan massa dari mutiara tersebut. Soal kualitas, mutiara Laut Selatan Indonesia tak perlu diragukan lagi. Kilaunya bersinar lembut dan memukau dalam segala situasi. Bentuknya bulat sempurna, di mana ketersediaannya hanya 10 sampai 30 persen dari total keseluruhan mutiara Laut Selatan di seluruh dunia sehingga terasa langka. Permukaannya tebal dan megah dengan nacre yang begitu alami. Ukuran dan massanya pun cukup besar jika dibandingkan dengan mutiara air tawar, berada dalam rentang 8 hingga 20 mm dengan rata-rata ketersediaan di kisaran 12 mm. Memiliki mutiara Laut Selatan dengan ukuran lebih dari 16 mm merupakan sesuatu yang membanggakan dan diimpikan banyak orang mengingat ketersediaannya yang begitu langka.

Dibandingkan dengan mutiara Tahiti, mutiara Laut Selatan Indonesia (Indonesian South Sea Pearl) jelas lebih besar, lebih cantik, lebih langka, dan oleh karenanya pasti lebih mahal. Mutiara Laut Selatan Indonesia memiliki berbagai variasi warna yang indah, meliputi : putih, perunggu, perak, krem, emas, merah muda, biru, dan hijau. Mutiara seperti ini sangat sulit ditemukan, hanya bisa kita dapatkan melalui budidaya peternakan mutiara di Laut Selatan yang dilakukan di Lombok (tepatnya di Selat Alas, Selat Lombok, dan Selat Sape), Bali, dan Sumbawa.

ilus2

Mutiara air tawar berukuran lebih kecil dan mutiara Tahiti berwarna hitam, tersedia lebih banyak di alam. Gambar diunduh dari www.originalmutiara.com.

 

Menjaga kelestarian laut penghasil mutiara

Bicara mengenai pemanasan global, kita memerlukan kondisi laut yang mendukung untuk masa depan berkelanjutan mutiara Laut Selatan Indonesia. Ketika lingkungan tidak memberikan suhu air, ketersediaan plankton, dan kadar sedimentasi yang sesuai, tiram akan menolak untuk menghasilkan mutiara berharga dan kita akan merasakan kerugian yang sangat besar. Kita harus bersyukur karena Lombok bisa menjadi penghasil mutiara air laut terbesar di dunia (mencapai empat puluh tiga persen pasokan mutiara dunia) dan kita harus bisa memaksimalkan potensinya dengan mengolah mutiara tersebut menjadi produk kerajinan yang unik. Produk-produk tersebut meliputi :

  • cincin,
  • kalung,
  • giwang,
  • anting,
  • gelang,
  • dan hiasan pada produk fesyen seperti gaun.

 

Mempertahankan dan meningkatkan nilai jual mutiara Laut Selatan Indonesia serta kontribusinya terhadap perekonomian nasional

Sulit? Tentu tidak, mengingat Indonesia memiliki banyak pengrajin perhiasan yang terampil dan unik. Produk-produk tersebut kemudian kita jual dengan merek nasional kita sendiri melalui saluran-saluran penjualan milik negara kita sendiri, meliputi : gerai cinderamata di dalam negeri, duty free shop di bandara internasional di seluruh Indonesia, dan online marketplace milik anak bangsa sendiri. Hal ini dilakukan untuk memberikan nilai tambah pada produk mutiara, tidak sekadar menjualnya dalam kondisi mentah, membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan negara, dan meminimalkan risiko ekspor mutiara secara illegal. Tak tanggung-tanggung, pada tahun 2014, Indonesia bisa mencetak eskpor hingga lebih dari USD 29 juta. Indonesia menjadi negara produsen mutiara Laut Selatan terbesar di dunia dan negara pengekspor mutiara terbesar ke-9 di dunia. Untuk menjaga kelangsungan warisan alam yang berharga ini, perlu kesadaran dan kerja sama di antara kita semua. Koordinasi, penegakan hukum, dan pengawasan dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan ketika semua yang berhubungan dengan kawasan Laut Selatan berkontribusi dalam menjaga kondisi laut.

Menjaga kondisi laut sangat penting untuk mempertahankan produksi Indonesian South Sea Pearl yang optimal dan kegiatan ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Gambar diunduh dari Wikipedia Bahasa Indonesia.

 

Bangga dengan menggunakan produk mutiara Laut Selatan Indonesia

Akhirnya, kita harus mengakui bahwa mutiara Laut Selatan Indonesia merupakan anugerah alam yang membanggakan dan tentu kita berharap produk ini bisa berkontribusi terhadap kemajuan negara mengingat harganya yang jauh lebih mahal dibandingkan mutiara produksi negara lain (enam sampai seratus kali lebih mahal, bisa mencapai USD 25-100 per gram), apalagi jika dibuat menjadi perhiasan. Tanpa berniat memaksa, jika kita mampu dan memungkinkan, sudah selayaknya kita menunjukkan kebanggaan kita dengan terlebih dahulu menggunakan produk olahan ISSP. Bagaimana kita bisa menginginkan orang asing menggunakan produk kita jika bukan kita yang memulainya? Untuk mendapatkannya, marilah kita berkunjung ke kawasan sekitar Laut Selatan, meliputi : Raja Ampat, Lombok, Sumbawa, Bali, Banyuwangi, Lampung, Manado, dan Halmahera.

Begitu membanggakan jika kita bisa menggunakan cincin dengan liontin berupa mutiara Laut Selatan Indonesia. Selain penampilannya yang begitu mewah, cantik, dan unik, liontin tersebut berasal dari kekayaan tanah air kita sendiri. Gambar diunduh dari www.missjoaquim.com.

 

Tulisan ini dipersembahkan oleh Christian Evan Chandra, di mana penulis bisa dihubungi melalui Facebook (@christian.evan.ch), Twitter (@official_cevan), dan Instagram (@cevan_321).

Christian Evan Chandra

View more posts from this author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *