Pentingnya Peran Anak Mempertahankan Nilai Kesederhanaan dalam Keluarga #ParentingAntiKorupsi #GakPakeKorupsi

Selamat datang kembali ke situs MenolakDiam milik saya, senang sekali dapat memberikan inspirasi bagi tanah air tercinta, Indonesia. Pada hari yang indah ini, saya akan membicarakan mengenai semangat pemberantasan korupsi.

Korupsi saat ini menjadi momok besar bagi bangsa Indonesia, di mana tindak pidana yang satu ini begitu merajalela. Program berita di stasiun televisi nasional dipenuhi dengan rekaman sidang kasus tindak pidana korupsi dan hukuman yang diberikan tidak pernah membuat kapok para pelakunya.

Bicara pemberantasan korupsi, apakah hari ini saya akan berbicara mengenai lembaga pemberantasan korupsi, seperti KPK dan ICW? Tentu bukan. Hal yang ingin saya bicarakan adalah semangat pemberantasan korupsi dari lingkup terkecil, yaitu keluarga.

Keluarga memegang peranan pertama dan paling penting dalam pembentukan karakter anggotanya, termasuk dalam hubungannya dengan kecenderungan mereka melakukan tindak pidana korupsi. Peran orang tua begitu besar untuk mendidik anak-anak mereka, namun peran aktif anak turut dibutuhkan dalam mempertahankan nilai-nilai integritas dalam diri orang tua dan saudara-saudaranya. Banyak nilai integritas yang harus dimiliki oleh keluarga untuk terhindar dari korupsi, dan salah satu nilai yang akan menjadi fokus bahasan saya hari ini adalah kesederhanaan.

Saat ini banyak kasus korupsi terjadi karena keinginan pelakunya untuk hidup serba mewah dan dihormati banyak orang. Di awal, mereka masih sanggup untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup dengan kemampuan sendiri sebelum akhirnya merasa tidak cukup dan memilih untuk korupsi. Tetapi sesungguhnya jika tidak didapat dengan cara yang halal, apa artinya semua kemewahan tersebut, betul?

Saya akan memberikan sedikit tips mengenai cara seorang anak dapat menjaga nilai kesederhanaan untuk selalu tinggal dalam kehidupan keluarganya.

Pertama, jangan takut untuk memberikan pendapat ketika keluargamu sedang menentukan pilihan untuk barang yang ingin dibeli. Ketika orang tuamu ingin membeli suatu barang dengan harga yang terbilang fantastis, kamu bisa memberikan saran untuk membeli barang dengan kualitas serupa namun dengan harga yang lebih terjangkau.

Kedua, gunakan pakaian sesuai dengan keperluan. Beranikan diri untuk menolak permintaan saudara maupun orang tua dalam menggunakan pakaian yang lebih mewah jika merasa penampilan diri sudah pas, dan jangan gunakan pakaian tertentu semata-mata untuk mengedepankan gengsi. Ingat, kamu dipandang dari kualitasmu, bukan hanya semata-mata dari penampilanmu.

Ketiga, jangan malu untuk menggunakan barangmu meskipun sudah digunakan cukup lama atau harganya terbilang murah. Apa yang kamu lakukan akan menjadi teladan untuk saudaramu yang lain, dan mereka akan menirunya. Kamu tidak perlu malu jika orang lain mengejekmu, justru kamu harus bangga atas kesederhanaanmu.

Keempat, kamu harus berani menolak ketika orang tua atau saudaramu ingin memberikan hadiah yang tergolong mewah dan tidak kamu butuhkan dengan kata-kata yang halus.

Kelima, ketika keluargamu diejek karena penampilan yang tidak dianggap mewah, kamu tidak perlu marah dan kamu harus menjaga perasaan mereka.

Terakhir, kamu juga harus berani untuk memberikan kritik terhadap orang tua dan saudaramu ketika mereka berpenampilan mewah, tidak sesuai dengan keperluan, dan malah tampak kurang serasi. Penampilan yang elegan tidak harus mewah, melainkan serasi dan sesuai dengan keperluan.

Dengan menerapkan pola hidup sederhana dan sesuai dengan keperluan, maka keluargamu akan terhindar dari pengeluaran yang tidak diperlukan dan juga terhindar dari tindakan korupsi. Selamat menerapkan tips dari saya, dan kamu patut bangga menjadi agen anti korupsi di dalam keluargamu! #ParentingAntiKorupsi #GakPakeKorupsi

Hadir Kembali!

Selamat sore Indonesia…

Setelah hampir dua pekan berkutat dengan kesibukan pribadi, hari ini saya menyempatkan diri kembali untuk berbagi pemikiran (kali ini bukan pemikiran saya) di blog ini.

Enam hari lalu, kita baru saja merayakan Hari Pahlawan, hari ketika Bung Tomo dan kawan-kawan di Surabaya berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Apakah sampai saat ini kemerdekaan masih perlu dipertahankan meski tak ada lagi perang antarnegara di Indonesia? Ya! Tuntutan untuk mempertahankan kemerdekaan itu semakin berat di tengah efek globalisasi yang merajalela, Indonesia ditantang apakah masih bisa mempertahankan identitasnya di tengah kehidupan serba global.

Lalu, bagaimana peran kita mempertahankan identitas? Indonesia adalah negara yang berbudaya, gotong royong. Maka marilah kita saling membantu sama lain. Bisa melestarikan budaya dan mempraktekkannya secara luwes lebih bagus, tetapi paling tidak kita menyerap dan mempraktekkan nilai-nilainya dulu dalam kehidupan sehari-hari. Sopan santun, bekerja dengan jujur dan ikhlas, anti korupsi, anti plagiat adalah perwujudan nilai-nilai budaya dalam kehidupan kita.

Semangat! Viva Indonesia!

Hidup Bukan Percobaan

Dalam hidup, memang terkadang kita mencoba hal baru yang belum pernah diketahui sebelumnya untuk mendapatkan sebuah penemuan yang berarti.

Namun, apakah hidup kita melulu soal percobaan? Tidak. Kita punya akal dan budi, sehingga kita bisa mempertimbangkan apa yang akan kita lakukan terlebih dahulu sebelum melakukan percobaan.

Kita harus tahu juga apakah percobaan itu perlu atau tidak, bermanfaat atau tidak. Jika hasilnya akan kurang lebih sama saja atau tidak diperlukan, percobaan itu tidak perlu dilakukan, karena sumber daya yang kita miliki terbatas.

Intinya, jangan asal mencoba-coba tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Lakukan sesuatu dengan dasar pemahaman yang cukup.

Viva Indonesia!

Belajar Lagi dari Sitkom Tetangga Masa Gitu

Selamat malam Indonesia…

Baru saja tayangan sitkom Tetangga Masa Gitu berakhir dan hari ini saya akan membagikan sesuatu yang sangat layak untuk kita renungkan bersama.

Dalam tayangan tadi, salah satu tokoh berpura-pura sakit untuk mendapatkan bantuan uang dari tetangganya dan pada akhirnya menjadi sakit.

Hal pertama yang bisa kita pelajari adalah, apa yang kamu tabur itulah yang kamu tuai. Percaya atau tidak, ketika kita berbohong atau berpura-pura dalam suatu kondisi negatif untuk mendapatkan perhatian bahkan bantuan, bisa jadi kita akan benar-benar terjerumus ke dalam kondisi tersebut.

Hal kedua adalah belajar rasa malu. Bagaimana jika kita berpura-pura dan kemudian orang lain tahu? Malu bukan? Ini yang sangat diharapkan untuk tertanam dalam pemikiran masyarakat. Malu jika kita mendapatkan bantuan namun sebenarnya kita bukanlah sasaran yang tepat. Jika kita mampu, mengapa harus meminta subsidi dengan cara yang tidak benar?

Itu saja pembelajarannya. Semoga bermanfaat dan Viva Indonesia.

Menghargai Waktu

Selamat malam Indonesia…

Dalam pandangan saya, saat ini orang Indonesia khususnya para pelajar belum bisa benar-benar menghargai waktu. Para pelajar dikenal senang dengan sistem kebut semalam. Santai ketika diberitahu beberapa waktu lagi akan ada ulangan atau tugas, ketika semalam sebelum itu terjadi baru berteriak minta bantuan temannya.

Begitu juga dengan para pekerja, senang menyelesaikan tugas dekat dengan batas akhir.

Mari kita menghargai waktu, sesuatu yang tidak bisa kita beli, sesuatu yang tidak bisa kita nilai, karena waktu begitu berharga…

Menutup tulisan ini, saya akan mengutip sebuah narasi. Selamat membaca dan merenung. Viva Indonesia!

Untuk menghargai waktu satu tahun, tanyakan pada anak yang tidak naik kelas. Untuk menghargai waktu satu bulan, tanyakan pada ibu bayi prematur. Untuk menghargai waktu satu minggu, tanyakan pada buruh mingguan. Untuk menghargai waktu satu hari, tanyakan pada buruh harian. Untuk menghargai waktu satu jam, tanyakan pada wanita yang sedang menunggu kekasihnya. Untuk menghargai waktu satu menit, tanyakan pada mereka yang tertinggal kereta. Untuk menghargai waktu satu detik, tanyakan pada dia yang selamat dari kecelakaan.